Home Agro & Budidaya Konservasi REBRICKS | Mengolah Sampah Plastik jadi Bahan Bangunan

REBRICKS | Mengolah Sampah Plastik jadi Bahan Bangunan

142
0
Kontribusi Besar Sampah Plastik pada Perubahan Iklim – 1 Sept 2022
Forpronews | Ovy Sabrina, S.Psi, Sarjana Psikologi lulusan Universitas Atmajaya Jakarta dengan latar belakang bisnis keluarga dibidang paving yang sudah beraktifitas lebih dari 33 tahun. Sebagai seorang milenial yang memiliki talenta serta kepedulian terhadap lingkungan hidup, memiliki visi untuk bisa menciptakan bahan bangunan campuran dari sampah plastik khususnya dari bahan sachet yang banyak terbuang dan banyak mencemari lingkungan di banyak daerah di Indonesia, hal ini yang meningkatkan semangat untuk mendirikan perusahaan yang bisa mengolah menjadi bahan bangunan yang berguna dan banyak dibutuhkan oleh masyarakat.
Sabrina Ovy, S.Psi. (kiri) dan Novita Tan, S.Psi. (kanan)
Bersama partnernya yaitu Novita Tan, S.Psi, seorang yang berpengalaman dalam bidang pengembangan masyarakat dan mempunyai keinginan untuk menjadi bagian dari pengolahan sampah yang berkelanjutan.
Keduanya bermula dari latar belakang pendidikan yang sama, bersepakat untuk mendirikan Rebricks Indonesia, yaitu suatu perusahaan pembuat bahan bangunan berupa paving, beton ringan, roster, dimana bahan bakunya menggunakan campuran antara sampah sachet yang sudah dirajang dengan pasir dan semen, sehingga menjadi bahan bangunan siap pakai dengan kualitas yang telah diuji sesuai dengan standar SNI dengan kekuatan hingga 250kg/cm2.
Sampah sachet atau multilayer ini merupakan sampah yang sulit didaur ulang mengingat terdiri dari beberapa lapisan plastik dengan jenis yang berbeda, dan ada juga yang menggunakan aluminium foil, sehingga sampah ini tidak banyak dipilih bahkan dihindari oleh para pemulung dan lapak pengepul. Sampah multilayer ini juga mengakibatkan terbentuknya mikroplastik dengan ukuran <5mm. Ada 2 type mikroplastik yaitu primer dan sekunder. Sampah multilayer ini menghasilkan mikroplastik sekunder dengan adanya proses degradasi.
Mikroplastik yang banyak mencemari lingkungan sangat mempengaruhi kesehatan pada manusia. Mikroplastik juga memiliki kandungan senyawa berbahaya yaitu zat pemlastis (plasticizer), dan sudah terkonfirmasi oleh peneliti sebagai senyawa pengganggu hormon, selain dapat memicu pertumbuhan tumor, juga mengganggu sistim imun dan sistim reporoduksi.
Rantai pasok makanan yang terkontaminasi dengan mikroplastik ini, dapat merusak tatanan mata rantai makanan pada ekosistim laut dan akan dapat menyebabkan gangguan pada sistim imun, hormon, reproduksi, syaraf, endokrin, alergi, gangguan metabolisme, kerusakan sel dalam tubuh hingga memicu pertumbuhan sel kanker. Paparan dalam intensitas rutin dan jangka panjang akan berakibat dan menjadi pemicu kematian sel bahkan kerusakan organ dalam tubuh manusia seperti paru-paru.
Dengan mengolah sampah multilayer ini maka akan sangat mengurangi dampak pencemaran lingkungan serta menekan pencemaran mikroplastik di lautan yang menjadi rantai pasok makanan bagi aneka biota laut, dimana hasil tangkapan nelayan juga akan menjadi konsumsi banyak masyarakat Indonesia.
Selain menimbulkan pencemaran di laut, mikroplastik ini juga mudah termakan oleh berbagai biota laut, seperti ikan, lobster, zooplankton serta terumbu karang. Dan bila mereka mengkonsumsi mikroplastik ini dalam jangka panjang, maka akan mempengaruhi sistim fisiologi berbagai biota laut tersebut.
Microplastik ini muncul sebagai akibat pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya, proses pengolahan limbah sampah yang buruk, terbawa oleh aliran air sungai hingga ke laut, kurang effektifnya pengelolaan sampah khususnya di kota-kota besar di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here