Home Bisnis Arang Briket Kelapa dari Indonesia Merajai Dunia

Arang Briket Kelapa dari Indonesia Merajai Dunia

874
0
Namun yang cukup membanggakan sebagai prestasi Indonesia adalah Indonesia merupakan penghasil briket arang batok kelapa atau coconut charcoal untuk sisha yang dikenal juga sebagai Hookah. Ada beberapa kegunaan lainnya yaitu untuk barbeque dan sebagai bio-energi untuk pemanas ruangan, pembangkit listrik dll. Hal ini karena tempurung batok kelapa di Indonesia adalah jenis yang terbaik didunia, lembah biomassa ini bisa diproses menjadi arang briket dengan spesifikasi yang yang sangat bagus.
Kadar air briket adalah sebesar maksimal 5% sesuai dengan standard SNI < 8%, dengan densitas briket rata-rata 11,23 g/cm3. Dengan nilai karbon mencapai 82-87% maka briket arang batok kelapa ini memiliki kualitas yang tinggi dan kadar abu nya yang rendah. Selain itu nilai kalor yang tinggi bisa mencapai diatas 7000, hal ini dipengaruhi oleh kadar abu briket dan kadar karbon dalam briket. Semakin tinggi kadar karbon maka nilai kalor briket yang dihasilkan akan semakin tinggi.
Selain itu dengan produk lain arang briket batok kelapa atau coconut charcoal ini juga memiliki keuntungan ganda, limbah biomassa yang diproses melalui beberapa tahapan produksi ini,  sehingga menghasilkan produk akhir arang briket yang memiliki nilai tambah yang tinggi, selain itu juga bisa menekan mengurangi penebangan pohon yang akan diproses menjadi arang kayu, dimana awalnya para penggemar BBQ banyak menggunakan arang kayu, tetapi karena nilai kalor yang rendah serta menimbulkan percikan api dan asap, maka para penggemar BBQ akhirnya banyak yang beralih menggunakan briket arang batok kelapa, karena selain memiliki nilai kalor yang lebih tinggi, juga memiliki panas yang stabil serta tahan lama, dan tidak menimbulkan asap atau bau lainya kecuali dari daging bakaran itu sendiri.
Sesuai dengan Protokol Kyoto 11 Desember 1997 dan mulai berlaku sejak 16 Februari 2001, sebuah amandemen terhadap Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), sebuah persetujuan internasional mengenai pemanasan global. Negara-negara yang meratifikasi protokol ini berkomitmen untuk mengurangi emisi/pengeluaran karbon dioksida dan lima gas rumah kaca lainnya atau bekerja sama dalam perdagangan emisi jika mereka menjaga jumlah atau menambah emisi gas-gas tersebut, yang dikaitkan dengan pemanasan global.
Indonesia telah mengadopsi Protokol Kyoto tersebut, dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2004 tentang Perubahan Iklim, hal ini bertujuan selain untuk mengurangi dampak pemanasan global, maka dengan adanya sumber energi alternatif lainnya untuk dapat berkontribusi menekan laju pemanasan global. Untuk mendapatkan dokumen UU Nomor 17 Tahun 2004, klik disini. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here